26 January 2020

Siswa menikmati makanan junk food di dalam kelas
Makanan menjadi kebutuhan penunjang keberhasilan belajar para siswa. Di beberapa negara makanan siswa diatur agar mendukung asupan gizi siswa. Di Jepang, siswa SD membawa alat makan dari rumah. Di sekolah, mereka diberi makanan siang.  Makan siang yang tidak hanya sekadar makan.  Tetapi makan untuk menjadi sarana belajar. Pelajaran apa yang diperoleh?

Pertama, belajar menyiapkan makanan. Para siswa dibimbing guru untuk menyiapkan makanan di meja yang disediakan.  Mereka belajar makan pada situasi kelompok. Dengan cara ini, para siswa dapat melihat bagaimana cara orang lain makan. Penggunaan garpu, sendok, sumpit menjadi contohnya.  Penggunaan garpu dan sendok bukan budaya Jepang. Sesekali para siswa melihat orang memakai garpu. Biasanya tamu non Jepang yang ikut makan diizinkan makan dengan cara dan budayanya. Meja makan menjadi tempat belahar mengenal budaya makan orang lain. Perbedaan cara makan mengajarkan untuk bisa menerima orang lain dengan budayanya tanpa dipersoalkan perbedaannya.  Sebaliknya, menjadi bahan untuk lebih mengenal budayanya sendiri.

Kedua, blajar bertanggungjawab pada makanan yang diambil. Setiap makanan sangat dihargai. Para siswa diberitahu bahwa untuk semangkuk sup, perjalanan yang dilaluinya amat panjang. Para siswa doajarkan bagaimana mengontrol diri untuk tidak mengambil makanan melebihi kemampuan perut untuk menampungnya. Para siswa diajari untuk menghabiskan makanan dan tidak diperkenankan membuang makanan. 
Ketiga,  belajar mengurusi alat makan setelah makan. Para siswa , masing-masing, mencuci piring, mangkok  dan alat makan yang dipakainya. Selain itu, secara bergiliran,  para siswa berkewajiban mengepel ruang makan. Ruang makan ketika ditinggalkan sama bersihnya dengan ketika masuk. 

Keempat, belajar mengelola sampah makanan.  Para siswa diajari membongkar karton susu sedemikian rupa sehingga menjadi seperti lipatan kertas. Kemudian sampah karton bekas susu tersebut dikumpulkan, dimasukkan pada tempat yang disediakan untuk karton. Sedangkan sampah lainnya, dikumpulkan sesuai kategori dan disimpan pada tempat yang disediakan.  Pembiasaan memilah sampah yang efektif karena dilakukan setiap hari.

Bagaimana dengan siswa kita? Sejauh ini pemberian makanan secara terkontrol dan teruji kualitasnya agar mendukung siswa belajar, belum disediakan pemerintah.  Pemerintah tidak menyediakan makan siang untuk siswa. 

Beberapa sekolah menyiasati jaminan makanan dengan menyediakan kantin sehat. Sehat dalam arti makanan yang dijual tidak mengandung zat-zat berbahaya. Sekolah secara reguler memeriksa makanan yang dijual di kantin. Cara ini memberikan sumbangan yang baik untuk makanan yang dikonsumsi siswa selama berada di sekolah. 
Berlawanan dengan sekolah yang berusaha mengontrol makanan yang dijual di kantin dan tempat jajanan sekolah,  masih ada sekolah yang tidak mengatur dan memberikan syarat kesehatan untuk makanan yang dijual di kantin sekolah. Kantin seperti ini menjadi sumber bahaya yang nyata bagi siswa.
Sebagai contoh kasus, di sebuah rumah sakit ada seorang siswa dirawat. Menurut dokter, siswa yang dirawat ini usus buntu dan usus buntunya harus dibuang.  Penyebabnya adalah makanan. Siswa tersebut mengaku sangat menyukai Seblak. Makanan pedas terbuat dari bahan campuran mi, bakso, sosis, telur dan seabreg cabai. Terdapat pilihan level pedas. Siswa ini menikmati setiap sendok Seblak yang sangat pedas. Sementara untuk makanan lain, dia kurang menyukainya. Menurutnya tidak menantang. 

Makakan sampah atau junk food yang disediakan di sekolah menjadi makanan utama yang akan dikonsumsi siswa. Menjadi bagian dari tanggung jawab sekolah untuk turut mengatur, mengontrol dan menentukan makanan apa yang boleh dijual di sekolah. Semoga dengan cara ini, para siswa selamat dari makanan sampah. 

No comments:

Post a Comment

No National Examination as Covid-19 Hit the Country

Teachers, administrators, and principals prepare all the students to be ready to join the national examination. This year is planned to be t...