Mengumpulkan informasi terkait kemampuan penguasaan kompetensi dasar
yang diperoleh siswa pada level sekolah melalui penilaian harian, penilaian
akhir semester memegang peranan penting dalam penentuan apakah siswa kompeten
atau tidak kompeten. Pada umumnya,
pengumpulan informasi terkait kemampuan siswa dilakukan secara terencana,
teratur dan dilakukan melalui prosedur tertentu oleh guru.
Urutan penilaian yang dilaksanakan pertama kali oleh guru adalah penetapan
kompetensi dasar yang akan diuji. Selanjutnya dari kompetensi tersebut
ditetapkan materi yang akan dijadikan soal. Materi dan kemampuan yang akan
diuji tersebut dikembangkan menjadi indikator soal, bentuk soal, jumlah soal
dan jenis soalnya.
Butir-butir soal yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait
penguasaan materi, memerlukan kreativitas dan kecermatan guru pada proses
pembuatannya. Kedua hal ini kelak menentukan keberfungsian dari setiap soal
terhadap pemerolehan informasi penguasaan materi oleh siswa.
Mengantisipasi ketidakberfungsian soal pada saat digunakan, maka
analisis soal secara kualitatif perlu dilakukan. Salah satu yang digunakan
adalah analisis dari aspek bahasa. Penulisan soal harus menggunakan bahasa
Indonesia dengan kaidah yang baku, yang tidak menimbulkan penafsiran ganda dan
atau salah pengertian.
Penggunaan bahasa pada setiap butir soal sangat penting sebagai alat
komunikasi secara tulis. Baru-baru ini beredar soal yang digunakan untuk
penilaian akhir semester dengan yang menarik banyak perhatian guru. Pokok soal
yang digunakan penulis soal menggunakan bahasa Indonesia tidak baku, contoh
"Air mendidih menjelang magribh, masukan ke Termos lalu menjelang sahur,
subhanallah itu air yang di Termos tetap panas, nikmatnya nyedu kopi melengkapi
sahur, alhamdulillah Allah menjaga air di Termos tetap panas melalui proses: A)
isotermis, B) isokhoris, C) isobaris, D) oraiso, E) adiabatis."
Pokok soal beserta pilihan ganda di atas, menujukkan tidak adanya
penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baku, misalnya tidak menggunakan pola
kalimat pernyataan yang standar yang mengandung subyek dan predikator yang
jelas. Pemilihan kata tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku seperti pada
kata nyedu. Selanjutnya menggunakan
bahasa lokal oraiso untuk sedakar
memenuhi kesamaan bunyi dengan kata-kata yang sebelumnya dipakai yakni
isotermis, isokhoris, dan isobaris. Pokok
soal tersebut juga menunjukkan penggunaan bahasa yang tidak formal yakni bahasa
lisan yang disajikan dalam bentuk tulis. Sejatinya ketika bahasa lisan berubah
menjadi bahasa ragam tulis mengalami perubahan sesuai aturan tata bahasa tulis.
Pokok soal beserta pilihan jawaban yang menjadi contoh di atas akhir
semester tersaji seolah "main-main, iseng, nyeleneh, menggunakan bahasa gaul
dengan alasan siswanya merasa akrab dengan bahasa tersebut". Hal ini tidak
sesuai dengan kaidah penulisan soal.
Penulis soal dituntut untuk memanfaatkan ruang kreatif guru secara
proporsional, jauh dari sikap kebablasan. Soal yang diberikan kepada siswa
merupaka alat ukur yang menuntut keseriusan dalam pembuatanya. Jika hal ini
dilanggar, bukan tidak mungkin dapat membahayakan jati diri guru sebgai penulis
soal yang sekaligus juga sebagai pendidik. Siswa yang menjadi pengguna soal,
bisa saja mengambil kesimpulan bahwa penilaian yang dilakukan guru bukanlah hal
yang serius. Salah simpul ini secara tidak langsung mengarah pada turunnya rasa
penghormatan siswa pada guru, juga turunnya rasa kekhidmatan pada penilaian.
Kemampuan guru dalam merakit soal memang beragam. Sebagai pembelajar
sejati, guru masa kini sepertinya kurang tepat jika menyalahkan ketidaktahuan
teknik dan aturan membuat soal. Sejak masa perkuliahan menulis soal telah
dikenalkan. Selanjutnya pada saat menjadi guru, setiap kali mengajar guru lekat
dengan pembuatan soal misalnya untuk mengukur keberhasilan proses mengajarnya,
untuk mengetahui tingkat penguasaan materi ajar oleh siswa, atau untuk
mengetahui keefektifan pembelajaran yang diberikannya. Bahkan, baru-baru ini
para guru mendapatkan pelatihan yang tergolong intensif untuk membuat soal yang
menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills
(HOTS).
Munculnya soal yang tidak memenuhi standar kaidah penulisan soal harus
menjadi perhatian semua pihak yang terkait secara langsung dengan kegiatan
tersebut yaitu adalah panitia penilaian akhir semester. Sangat dianjurkan
ketika guru menyerahkan soal, panitia yang bertanggung jawab menyandingkan
antara kisi-kisi soal dengan setiap soal yang dibuatnya. Kemudian di periksa
pula kesesuaian materi, konstruksi penulisan soal, dan bahasa yang
digunakannya, dan periksa pula apakah ada salah pengetikan atau kesalahan
mekanik lainnya yang mengganggu kenyamanan pembaca soal. Terakhir, kembalikan
soal kepada pembuat soal untuk diperiksa ulang untuk menghindari
kesalahan-kesalahan yang disebutkan tadi.
Pada saat panitia menemukan guru yang kemampuan membuat soalnya
memerlukan bimbingan, segera lakukan pembimbingan yang langsung bersifat teknik
pada lingkup MGMP tingkat sekolah. Dengan cara ini diharapkan kelak tidak lagi
muncul lembaran-lembaran soal yang tidak memenuhi kaidah penulisan soal.
Kegiatan penilaian sangat penting peranannya, jaga kualitasnya dengan
menyajikan soal yang sesuai dengan standar.