1: Hari ini Marini Pulang
Oleh: Mashdar
Zainal
Peresensi:
Badriah
(1) Kutipan
kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tsb;
JENAZAH Marini
tiba di rumah duka pada hari pertama puasa. Tiga jam menjelang waktu berbuka.
Ramadan ini
Marini pulang, Mak! Itu yang dikatakan Marini sebulan silam di telepon. Dan
kini, Marini benar-benar pulang. Menepati janjinya. Pulang dengan cara lain.
***
“Sekarang juga
tetap jadi ladang kok, ladang amal buat Emak. Percayalah! Bahkan sepetak tanah
yang menjadi tempat sampah pun akan bisa bicara pada Tuhan kelak.”
Pada saat
itulah emak melihat Marini mengerjapkan mata dan bangkit dari rebahnya seperti
orang yang habis bangun tidur.
(2) Paragraf kunci dalam cerita;
Saat pergi ke
stasiun itulah, selepas mandi, tiba-tiba Marini merasa tubuhnya sangat dingin.
Kepalanya juga sedikit pening. Ia membaringkan tubuhnya sebentar, dan tak
bangun lagi. Teman-teman satu rumah kontrakan membawa Marini ke rumah sakit,
dan Marini tak terselamatkan. Dokter menduga Marini terkena angin duduk.
(3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut
saya sebagai peresensi)
Umur tidak ada
yang tahu, ajal bisa menjemput siapa saja tanpa pandang umur dan waktu
(4) Pesan moral
Belajar
melaksanakan kegiatan dengan skala prioritas dan terencana agar terhindar dari
hal-hal yang tidak diinginkan.
(5) Kritik
untuk cerpen: sajian terasa sangat ringan didukung dengan gaya penyampaian yang
apik sehingga memudahkan mencerna apa yang sedang disajikan. Bisa lebih menarik
jika diberi konflik sehingga kematian Marini bukan karena angin duduk, tapi
oleh sebab lain.
2. Anak Mercusuar
Oleh: Mashdar
Zainal
Peresensi:
Badriah
(1) Kutipan
kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tsb;
Ayahku sebuah
mercusuar di dekat dermaga. Mercusuar tua bertubuh jangkung, berkemeja putih,
dan bertopi coklat tahi karat.
Dan sebuah
mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di
tempat yang ditentukan, dan kedua ia tak boleh memejamkan mata di waktu malam.
Dan ayahku tak pernah menyalahi sumpah.
… ibu sudah
berjanji tak hendak lagi menyebut nama-nama itu. Ibu hanya akan menyebutnya
sebagai segeromlan hantu dalam kapal hantu. Sebab, sesampainya di tengah laut,
orang-orang itu memang berubah menjadi hantu yang menyekap ibu.
Menangis. Hanya
menangis sampai air matanya menjadi garam. Sampai ludahnya menjadi garam.
Sampai rambutnya menjadi garam. Dan kulitnya bersisik-sisik penuh serbuk daki,
benar-benar seperti ikan dilumuri garam.
Jadi begitulah!
Kalau ada yang bertanya padaku, siapa ayahku, akan kujawab: ayahku adalah
sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ibuku yang menceritakan semuanya.
(2) Paragraf kunci dalam cerita;
… ibu sudah
berjanji tak hendak lagi menyebut nama-nama itu. Ibu hanya akan menyebutnya
sebagai segeromlan hantu dalam kapal hantu. Sebab, sesampainya di tengah laut,
orang-orang itu memang berubah menjadi hantu yang menyekap ibu.
Jadi begitulah!
Kalau ada yang bertanya padaku, siapa ayahku, akan kujawab: ayahku adalah
sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ibuku yang menceritakan semuanya.
(3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut
saya sebagai peresensi)
Kemalangan
perempuan yang menjadi permainan nafsu binatang para pria.
(4) Pesan moral
Perempuan
menanggung derita fisik dan mental akibat dari perlakukan hewani yang dilakukan
lawan jenisnya. Mencarikan ayah untuk anak yang tidak diundang merupakan
masalah lain yang muncul akibat harusnya seorang anak lahir dari perkumpulan
dua orang yang sah secara hukum agama dan negara.
(5) Kritik
untuk cerpen: penyajian certita sangat jelas, penggunaan kata ‘mercusuar adalah
ayah’ semula dikira saya untuk metafora ayah, namun ternyata dalam arti
sesungguhnya. Sedangkan kata ‘hantu’ banar-benar metafora untuk para pelaku
kejahatan seks yang merusak kebahagiaan seorang perempuan.
Cerpen dapat dibaca di:



