Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

04 June 2019

Resensi: Kue itu memakan ayahku

Kue Itu Memakan Ayahku ilustrasi Amrizal Salayan/Kompas 

1: Kue itu memakan ayahku
https://lakonhidup.com/2018/03/04/kue-itu-memakan-ayahku/
Oleh: Guntur Alam
Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tsb;
Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.” Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya.
“Mula-mula, kue itu memakan otak ayah. Kemudian mata, lidah dan mulut.” Ucapan itu ayah utarakan saat kami duduk berdua di teras belakang,..
“Apa kau tahu kalau ibu dan ayah berkencan pertama kali di kafe yang terkenal dengan kuenya?”
Mula-mula, aku dan ibu menduga, ayah hanya bosan. Dia sedang tak ingin makan kue. Namun dugaan kami itu sirna. Ayah bukan hanya tak ingin makan kue lagi, tapi dia terlihat takut melihat kue.
Namun kesunyian telah menerangkan kepadaku dengan sangat benderang; ayahku telah berubah.
“Bisa,” desisnya. “Bahkan kue yang ayah potong-potong di kantor itu telah membunuh banyak orang.”

 (2) Paragraf kunci dalam cerita;
Ibu membahas cerita heboh itu saat makan malam. Mulanya ayah tak bereaksi apa pun, dia makan seperti biasa. Tapi ketika ibu menyebutkan kata-kata, “kok bisa ya, padahal baru dibangun setengah tahun lalu.” Tiba-tiba saja ayah menggebrak meja makan, isi mangkuk kuah terciprat, membasahi taplak meja. Aku kaget, pun ibu.
“Kenapa dengan sekolah itu?” aku tak tahu hubungannya dengan kue yang dipotong-potong ayah di kantornya. Apa hubungan kue dan atap sekolah yang ambruk?

“Itu karena kue yang ayah potong-potong.”
Di lantai, aku melihat ayah tergeletak kaku. Diam. Mulutnya berbusa. Di tangan kanannya masih ada sepotong kue brownies buatan ibu. Di ujung kakinya, aku melihat botol pembasmi nyamuk.

 (3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Tekanan yang dialami seorang pegawai yang harus menuruti keinginan atasannya. Salah satu yang harus ditanggungnya adalah membagikan jatah pekerjaan, uang, peluang, atau hal lain yang mempengaruhi hajat orang banyak, oleh penulis disebut kue. Misalnya kue untuk memperbaiki sekolah, kuenya ternyata disalahgunakan, dan ini mengecewakan di pegawai tadi.

 (4) Pesan moral
Jabatan mengandung konsekwensi dan resiko. Sekecil apapun tingkatnya. Apalagi jabatan yang tinggi yang bisa membagikan jatah-jatah pada orang lain.

(5) Kritik untuk cerpen: aku dalam cerpen ini digambarkan sebagai anak SD. Agak janggal jika anak-anak memikirkan apa itu ‘istri ketiga’ dan berharap ibunya tidak mendengar istilah itu. Terlalu kecil bagi anak SD untuk menafsirkan secara dalam kalimat “Itu istri ketiganya,” bisik ayah. Dan aku hanya melongo mendengarnya. Kuharap, ibu tak pernah mendengar ucapan itu.

2: Dongeng Nostradamus
https://lakonhidup.com/2012/01/31/dongeng-nostradamus/
Oleh: Guntur Alam
Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tsb;
Di kepala surat itu tertulis kalimat seperti ini. St. Remy, Jelang Musim Semi, 1533. Ah, orang gila mana yang sedang membuat lelucon denganku?
Aku memendamnya sendiri bersama cemas yang tiba-tiba saja sudah besar di dadaku. Entahlah, aku tak sadar, sejak kapan aku cemas melihat hari-hari tergunting di alamanak rumah. Ketika jam-jam merangkak. Dan minggu-minggu itu berguguran. Aku cemas. Sangat cemas.

 (2) Paragraf kunci dalam cerita;
Sudah waktunya?” aku cemas, istriku mengangguk dengan muka meringis.
“Sudah sembilan bulan dua belas hari, Bang. Sudah lebih dari masanya.”
Seperti diperintah, aku teringat dengan isi surat lelaki bernama Michel de Nostradame itu. Bulan ke sembilan, lewat dua belas hari. Aku menelan ludah.

 (3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Fenomena 2012, ramalan yang menggemparkan duni. Tahun 2012 menurut ramalan suku Maya dunia akan kiamat. Cerpen itu pun ditulis pada tahun 2012, tahun yang sama pula dibuat film 2012 yang mengisahkan kiamat. Penulis ingin mengabarkan bahwa tahun 2012 bisa saja terjadi bencana seperti yang diramalkan.

(4) Pesan moral
Ramalan berdasarkan apapun awal munculnya, bisa karena hitungan nama, bulan, hari atau kesejajaran bintang, semuanya hanyalah ramalan. Tidak pasti. Ramalan hanyalah dugaan berdasarkan gejala, prakiraan, dan hitung-hitungan yang bisa saja meleset. Namun, manusia secara naluariah selalu ingin tahu esok, maka ketika dia diberi gambaran esok (yang belum tentu benar) dia gelisah sendiri.

 (5) Kritik untuk cerpen:
Penulis kurang jeli dan intens dalam melihat tahun. Dia menuliskan surat itu ditulis tahun 1533, pada usia Nostradamus 30 tahun. Pada usia itu, Nostradamus belum membuat buku tentang ramalan. Buku The Prophecies terbit tahun 1555. Dan bukunya yang paling terkenal adalah The Almanac yang juga berisi ramalan terbit tahun 1550. Dan nama Nostradamus (nama aslinya Nostrademe (Perancis), menjadi Latin Nostradamus) itu dikenalkan mulai tahun 1550, jadi jika pada surat tertulis tahun 1533, nama yang tertulis seharusnya Nostredame.

03 June 2019

Resensi Cinta di atas perahu Cadik


Oleh: Sukab
Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tersebut:
Para nelayan memang hanya tahu perahu

Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!”

“Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat—dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.”

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

 (2) Paragraf kunci dalam cerita;
“Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia
bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya.”


 (3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Urusan cinta tidak dapat dipasung oleh apapun termasuk pernikahan.

 (4) Pesan moral
Menyelesaikan urusan cinta tidak dapat menggunakan kekerasan. Sebagai manusia beradab, urusan cinta dapat diselesaikan berdasarkan aturan dan hokum yang berlaku.
(5) Kritik untuk cerpen: penyempitan dan penyederhanaan terhadap kehidupan nelayan yang dianggap hanya tahu perahu. Pada kenyataannya, nelayan tahu lebih dari sekadar perahu. Kedua, kalimat “Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.” Memberikan kesan bahwa cinta melegitimasi melakukan hal-hal yang melanggar norma. Untuk konteks negara beragama, tidak bisa membebaskan diri dari aturan dan tidak peduli (tidak bertanggung jawab secara moral) seperti itu.

Inti cerita:

Hayati dan Sukab sama-sama telah berkeluarga, keduanya saling mencintai. Keduanya pergi dengan perahu cadik dan para istri suami masing-masing mengizinkan mereka melakukan itu karena tidak perlu repot mengurusi cinta dengan kekerasan.


02 June 2019

Belajar: Resensi #1

Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom


1.    
Sebotol Air Dari Sebuah Perjalanan

Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tsb;
bukankah kecantikan itu makanan terlezat bagi nafsu? 
…pernikahan adalah amanah dan bagaimana pun bentuk nasibnya haruslah dijaga dan ia hanya memupuk kesabaran dari tahun ke tahun.
Ia tidak boleh bernafsu pada seorang perempuan dan lebih buruk dari itu ketika ia tidak boleh bernafsu pada istrinya sendiri.
Ia teramat gembira telah mampu menghindar dari istri yang semacam istrinya, dengan cara terhormat semacam ini.
 Sebotol air minum yang tidak boleh diminum itu akhirnya ia minum untuk mengusir dahaga. Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan akhirnya tak bernapas lagi.
(2) Paragraf kunci dalam cerita;
Di antara benar dan tidaknya mimpi istrinya, ia telah menemukan celah untuk melepaskan diri dengan perjalanan yang diminta istrinya, perjalanan melepas yang tidak lahir dari rasa yang tidak bertanggung jawab.
Sebotol air minum yang tidak boleh diminum itu akhirnya ia minum untuk mengusir dahaga. Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan akhirnya tak bernapas lagi.
(3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Ongky Arista UA memaparkan bahwa pernikahan itu amanah yang tujuannya untuk memiliki keturunan. Namun perempuan kadang mempunyai pikiran yang tidak masuk akal, misalnya jangan dulu memiliki anak kalau belum punya harta yang cukup untuk menghidupinya. Oleh karenanya carilah dulu harta, baru punya anak.
Ongky Arista UA hendak menggambarkan bahwa keyakinan itu perlu untuk mendukung agar tujuan terus diupayakan sehingga kelak bisa dicapai.
(4) Pesan moral
Pernikahan merupakan bertemunya dua keyakinan: keyakinan yang dipegang istri, dan keyakinan yang dipegang oleh suami. Kedua keyakinan ini harus bersinergi sehingga saling mendukung untuk mencapai tujuan berkeluarga, misalnya memiliki anak.
 (5) Kritik untuk cerpen: di satu sisi Ongky Arista UA sangat mengejutkan ketika membuat satu entitas biasa yaitu sebotol air minum menjadi sesuatu yang bisa mengeksplorasi kehidupan sebuah rumah tangga dan kekisruhan di dalamnya. Di sisi lain, Ongky Arista UA tidak adil dalam menggelar tokoh utama pria yang seolah nurut dan manut pada istrinya. Isi cerita berpusat pada satu keinginan: menuruti keinginan istri, sedangkan dalam keinginan suaminya tidak tersentuh, dan bahkan tidak ada suaranya.


Inti cerita

Seorang pria tidak bisa menyetubuhi istrinya karena istrinya khawatir nanti punya anak dalam keadaan miskin. Kata si istri, ;aku bermimpi, temuilah orang berbaju putih, dan minumlah air ini setelah kamu berhasil. Si pria berangkat, malah dia tidak berniat pulang, merasa bebas dari istrinya, dan dia minum air itu, dia mati (mungkin air itu telah diracuni oleh istrinya)

2.     Kakek Tidak akan Mati

Oleh: Ongky Arista UA
Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tersebut;
Sejak kanak-kanak, aku sudah percaya bahwa semua manusia akan mati tanpa terkecuali.
Lagi pula, kematian itu bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham atas sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
Lagi pula, kematian itu bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham atas sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
Apakah waktu bisa menyepuh tubuh manusia menjadi tua?
…, tetapi kematian adalah soal kepastian yang tak begitu tepat dipastikan–oleh siapa pun–kapan akan benar-benar datang atau kapan akan benar-benar tidak datang.
“Hanya satu kepastian, semua akan kembali pada yang Satu.”
 (2) Paragraf kunci dalam cerita;
Kakek meninggal. Nenek menjerit-jerit seperti jeritan anak kecil saat kakinya terjepit roda sepeda yang dikendarianya, tersentak-sentak jeritnya. Sepertinya, malaikat maut sudah dari tadi ikut bersama kita di lencak bambu ini atau di atas dahan pohon kedondong sambil menahan angin dengan kaki terjuntai tepat di atas ubun-ubun kakek.
Dan kematian bukan lagi tentang manusia yang dapat bertahan hidup atau tidak, tentang keyakinan atau tidak, umur tua atau tidak dan bukan pula soal menunggu waktu atau tidak, tetapi kematian adalah soal kepastian yang tak begitu tepat dipastikan–oleh siapa pun–kapan akan benar-benar datang atau kapan akan benar-benar tidak datang.
 (3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Ongky Arista UA memaparkan bahwa manusia dicekoki sebuah keyakinan: manusia akan mati, dan semua harus setuju dengan cekokan itu. Ketika seorang lelaki (kakek) melawan cekokan turun temurun tersebut dengan menyebut dirinya tidak akan mati, kakek dipandang manusia aneh.

(4) Pesan moral
Manusia mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul dibenaknya. Ada pertanyaan yang bisa dijawab, ada pertanyaan yang bisa dijawab oleh waktu. Kematian merupakan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, waktu yang akan menjawabnya.

(5) Kritik untuk cerpen: pertama, penggunaan Bahasa daerah yang disisipkan pada cerita, walaupun diberi arti sejelas mungkin melalui penjelasan dalam kurung, namun bagi saya sebagai pembaca itu mengganggu kenyamanan membaca. Kedua, pada kalimat “Pohon kedondong di depan kakek sesekali menyemburkan angin. Beberapa lipat daun gugur, sebagian hinggap di lencak kita duduk.” Penggunaan kata kita terasa janggal. Saya sebagai pembaca membayangkan bahwa saya ikut menjadi bagian cerita karena akibat kata ganti kita. Padahal saya tidak ikut menjadi siapapun dalam cerita itu, saya hanya pembaca saja. Mungkin menggunakan kata ‘kami’ lebih tepat, agar jelas yang duduk itu hanya para pelakon dalam cerita itu saja.

Inti cerita:

Seorang lelaki mengaku tidak akan pernah mati karena ia mengatakanya begitu. Istrinya sangat mempercayainya. Cucunya menanyakan apakah benar kakek tidak akan mati, namun kakek itu mati. Si cucu merasa menemukan jawban,  melihat neneknya menangis “apakah nenek merasa tertipu karnea ternyata kakek mati.

Cerpen lengkap dapat dibaca di:

Diskusi untuk perbedaan resensi, dapat diunggah pada komentar. 

No National Examination as Covid-19 Hit the Country

Teachers, administrators, and principals prepare all the students to be ready to join the national examination. This year is planned to be t...