Showing posts with label HOTS. Show all posts
Showing posts with label HOTS. Show all posts

05 May 2019

Bagaimana cara menulis soal


Mengumpulkan informasi terkait kemampuan penguasaan kompetensi dasar yang diperoleh siswa pada level sekolah melalui penilaian harian, penilaian akhir semester memegang peranan penting dalam penentuan apakah siswa kompeten atau tidak kompeten.  Pada umumnya, pengumpulan informasi terkait kemampuan siswa dilakukan secara terencana, teratur dan dilakukan melalui prosedur tertentu oleh guru.
Urutan penilaian yang dilaksanakan pertama kali oleh guru adalah penetapan kompetensi dasar yang akan diuji. Selanjutnya dari kompetensi tersebut ditetapkan materi yang akan dijadikan soal. Materi dan kemampuan yang akan diuji tersebut dikembangkan menjadi indikator soal, bentuk soal, jumlah soal dan jenis soalnya.
Butir-butir soal yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait penguasaan materi, memerlukan kreativitas dan kecermatan guru pada proses pembuatannya. Kedua hal ini kelak menentukan keberfungsian dari setiap soal terhadap pemerolehan informasi penguasaan materi oleh siswa.
Mengantisipasi ketidakberfungsian soal pada saat digunakan, maka analisis soal secara kualitatif perlu dilakukan. Salah satu yang digunakan adalah analisis dari aspek bahasa. Penulisan soal harus menggunakan bahasa Indonesia dengan kaidah yang baku, yang tidak menimbulkan penafsiran ganda dan atau salah pengertian.  
Penggunaan bahasa pada setiap butir soal sangat penting sebagai alat komunikasi secara tulis. Baru-baru ini beredar soal yang digunakan untuk penilaian akhir semester dengan yang menarik banyak perhatian guru. Pokok soal yang digunakan penulis soal menggunakan bahasa Indonesia tidak baku, contoh "Air mendidih menjelang magribh, masukan ke Termos lalu menjelang sahur, subhanallah itu air yang di Termos tetap panas, nikmatnya nyedu kopi melengkapi sahur, alhamdulillah Allah menjaga air di Termos tetap panas melalui proses: A) isotermis, B) isokhoris, C) isobaris, D) oraiso, E) adiabatis."
Pokok soal beserta pilihan ganda di atas, menujukkan tidak adanya penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baku, misalnya tidak menggunakan pola kalimat pernyataan yang standar yang mengandung subyek dan predikator yang jelas. Pemilihan kata tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku seperti pada kata nyedu. Selanjutnya menggunakan bahasa lokal oraiso untuk sedakar memenuhi kesamaan bunyi dengan kata-kata yang sebelumnya dipakai yakni isotermis, isokhoris, dan isobaris. Pokok soal tersebut juga menunjukkan penggunaan bahasa yang tidak formal yakni bahasa lisan yang disajikan dalam bentuk tulis. Sejatinya ketika bahasa lisan berubah menjadi bahasa ragam tulis mengalami perubahan sesuai aturan tata bahasa tulis.
Pokok soal beserta pilihan jawaban yang menjadi contoh di atas akhir semester tersaji seolah "main-main, iseng, nyeleneh, menggunakan bahasa gaul dengan alasan siswanya merasa akrab dengan bahasa tersebut". Hal ini tidak sesuai dengan kaidah penulisan soal.
Penulis soal dituntut untuk memanfaatkan ruang kreatif guru secara proporsional, jauh dari sikap kebablasan. Soal yang diberikan kepada siswa merupaka alat ukur yang menuntut keseriusan dalam pembuatanya. Jika hal ini dilanggar, bukan tidak mungkin dapat membahayakan jati diri guru sebgai penulis soal yang sekaligus juga sebagai pendidik. Siswa yang menjadi pengguna soal, bisa saja mengambil kesimpulan bahwa penilaian yang dilakukan guru bukanlah hal yang serius. Salah simpul ini secara tidak langsung mengarah pada turunnya rasa penghormatan siswa pada guru, juga turunnya rasa kekhidmatan pada penilaian.
Kemampuan guru dalam merakit soal memang beragam. Sebagai pembelajar sejati, guru masa kini sepertinya kurang tepat jika menyalahkan ketidaktahuan teknik dan aturan membuat soal. Sejak masa perkuliahan menulis soal telah dikenalkan. Selanjutnya pada saat menjadi guru, setiap kali mengajar guru lekat dengan pembuatan soal misalnya untuk mengukur keberhasilan proses mengajarnya, untuk mengetahui tingkat penguasaan materi ajar oleh siswa, atau untuk mengetahui keefektifan pembelajaran yang diberikannya. Bahkan, baru-baru ini para guru mendapatkan pelatihan yang tergolong intensif untuk membuat soal yang menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS).
Munculnya soal yang tidak memenuhi standar kaidah penulisan soal harus menjadi perhatian semua pihak yang terkait secara langsung dengan kegiatan tersebut yaitu adalah panitia penilaian akhir semester. Sangat dianjurkan ketika guru menyerahkan soal, panitia yang bertanggung jawab menyandingkan antara kisi-kisi soal dengan setiap soal yang dibuatnya. Kemudian di periksa pula kesesuaian materi, konstruksi penulisan soal, dan bahasa yang digunakannya, dan periksa pula apakah ada salah pengetikan atau kesalahan mekanik lainnya yang mengganggu kenyamanan pembaca soal. Terakhir, kembalikan soal kepada pembuat soal untuk diperiksa ulang untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang disebutkan tadi.
Pada saat panitia menemukan guru yang kemampuan membuat soalnya memerlukan bimbingan, segera lakukan pembimbingan yang langsung bersifat teknik pada lingkup MGMP tingkat sekolah. Dengan cara ini diharapkan kelak tidak lagi muncul lembaran-lembaran soal yang tidak memenuhi kaidah penulisan soal. Kegiatan penilaian sangat penting peranannya, jaga kualitasnya dengan menyajikan soal yang sesuai dengan standar.

No National Examination as Covid-19 Hit the Country

Teachers, administrators, and principals prepare all the students to be ready to join the national examination. This year is planned to be t...