02 June 2019

Belajar: Resensi #1

Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom


1.    
Sebotol Air Dari Sebuah Perjalanan

Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tsb;
bukankah kecantikan itu makanan terlezat bagi nafsu? 
…pernikahan adalah amanah dan bagaimana pun bentuk nasibnya haruslah dijaga dan ia hanya memupuk kesabaran dari tahun ke tahun.
Ia tidak boleh bernafsu pada seorang perempuan dan lebih buruk dari itu ketika ia tidak boleh bernafsu pada istrinya sendiri.
Ia teramat gembira telah mampu menghindar dari istri yang semacam istrinya, dengan cara terhormat semacam ini.
 Sebotol air minum yang tidak boleh diminum itu akhirnya ia minum untuk mengusir dahaga. Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan akhirnya tak bernapas lagi.
(2) Paragraf kunci dalam cerita;
Di antara benar dan tidaknya mimpi istrinya, ia telah menemukan celah untuk melepaskan diri dengan perjalanan yang diminta istrinya, perjalanan melepas yang tidak lahir dari rasa yang tidak bertanggung jawab.
Sebotol air minum yang tidak boleh diminum itu akhirnya ia minum untuk mengusir dahaga. Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan akhirnya tak bernapas lagi.
(3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Ongky Arista UA memaparkan bahwa pernikahan itu amanah yang tujuannya untuk memiliki keturunan. Namun perempuan kadang mempunyai pikiran yang tidak masuk akal, misalnya jangan dulu memiliki anak kalau belum punya harta yang cukup untuk menghidupinya. Oleh karenanya carilah dulu harta, baru punya anak.
Ongky Arista UA hendak menggambarkan bahwa keyakinan itu perlu untuk mendukung agar tujuan terus diupayakan sehingga kelak bisa dicapai.
(4) Pesan moral
Pernikahan merupakan bertemunya dua keyakinan: keyakinan yang dipegang istri, dan keyakinan yang dipegang oleh suami. Kedua keyakinan ini harus bersinergi sehingga saling mendukung untuk mencapai tujuan berkeluarga, misalnya memiliki anak.
 (5) Kritik untuk cerpen: di satu sisi Ongky Arista UA sangat mengejutkan ketika membuat satu entitas biasa yaitu sebotol air minum menjadi sesuatu yang bisa mengeksplorasi kehidupan sebuah rumah tangga dan kekisruhan di dalamnya. Di sisi lain, Ongky Arista UA tidak adil dalam menggelar tokoh utama pria yang seolah nurut dan manut pada istrinya. Isi cerita berpusat pada satu keinginan: menuruti keinginan istri, sedangkan dalam keinginan suaminya tidak tersentuh, dan bahkan tidak ada suaranya.


Inti cerita

Seorang pria tidak bisa menyetubuhi istrinya karena istrinya khawatir nanti punya anak dalam keadaan miskin. Kata si istri, ;aku bermimpi, temuilah orang berbaju putih, dan minumlah air ini setelah kamu berhasil. Si pria berangkat, malah dia tidak berniat pulang, merasa bebas dari istrinya, dan dia minum air itu, dia mati (mungkin air itu telah diracuni oleh istrinya)

2.     Kakek Tidak akan Mati

Oleh: Ongky Arista UA
Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tersebut;
Sejak kanak-kanak, aku sudah percaya bahwa semua manusia akan mati tanpa terkecuali.
Lagi pula, kematian itu bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham atas sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
Lagi pula, kematian itu bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham atas sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
Apakah waktu bisa menyepuh tubuh manusia menjadi tua?
…, tetapi kematian adalah soal kepastian yang tak begitu tepat dipastikan–oleh siapa pun–kapan akan benar-benar datang atau kapan akan benar-benar tidak datang.
“Hanya satu kepastian, semua akan kembali pada yang Satu.”
 (2) Paragraf kunci dalam cerita;
Kakek meninggal. Nenek menjerit-jerit seperti jeritan anak kecil saat kakinya terjepit roda sepeda yang dikendarianya, tersentak-sentak jeritnya. Sepertinya, malaikat maut sudah dari tadi ikut bersama kita di lencak bambu ini atau di atas dahan pohon kedondong sambil menahan angin dengan kaki terjuntai tepat di atas ubun-ubun kakek.
Dan kematian bukan lagi tentang manusia yang dapat bertahan hidup atau tidak, tentang keyakinan atau tidak, umur tua atau tidak dan bukan pula soal menunggu waktu atau tidak, tetapi kematian adalah soal kepastian yang tak begitu tepat dipastikan–oleh siapa pun–kapan akan benar-benar datang atau kapan akan benar-benar tidak datang.
 (3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut saya sebagai peresensi)
Ongky Arista UA memaparkan bahwa manusia dicekoki sebuah keyakinan: manusia akan mati, dan semua harus setuju dengan cekokan itu. Ketika seorang lelaki (kakek) melawan cekokan turun temurun tersebut dengan menyebut dirinya tidak akan mati, kakek dipandang manusia aneh.

(4) Pesan moral
Manusia mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul dibenaknya. Ada pertanyaan yang bisa dijawab, ada pertanyaan yang bisa dijawab oleh waktu. Kematian merupakan pertanyaan yang tidak perlu dijawab, waktu yang akan menjawabnya.

(5) Kritik untuk cerpen: pertama, penggunaan Bahasa daerah yang disisipkan pada cerita, walaupun diberi arti sejelas mungkin melalui penjelasan dalam kurung, namun bagi saya sebagai pembaca itu mengganggu kenyamanan membaca. Kedua, pada kalimat “Pohon kedondong di depan kakek sesekali menyemburkan angin. Beberapa lipat daun gugur, sebagian hinggap di lencak kita duduk.” Penggunaan kata kita terasa janggal. Saya sebagai pembaca membayangkan bahwa saya ikut menjadi bagian cerita karena akibat kata ganti kita. Padahal saya tidak ikut menjadi siapapun dalam cerita itu, saya hanya pembaca saja. Mungkin menggunakan kata ‘kami’ lebih tepat, agar jelas yang duduk itu hanya para pelakon dalam cerita itu saja.

Inti cerita:

Seorang lelaki mengaku tidak akan pernah mati karena ia mengatakanya begitu. Istrinya sangat mempercayainya. Cucunya menanyakan apakah benar kakek tidak akan mati, namun kakek itu mati. Si cucu merasa menemukan jawban,  melihat neneknya menangis “apakah nenek merasa tertipu karnea ternyata kakek mati.

Cerpen lengkap dapat dibaca di:

Diskusi untuk perbedaan resensi, dapat diunggah pada komentar. 

No comments:

Post a Comment

No National Examination as Covid-19 Hit the Country

Teachers, administrators, and principals prepare all the students to be ready to join the national examination. This year is planned to be t...