![]() |
| Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom |
1. Sebotol
Air Dari Sebuah Perjalanan
Peresensi: Badriah
(1) Kutipan kata atau kalimat yang
menarik dalam cerpen tsb;
…bukankah kecantikan itu makanan terlezat bagi nafsu?
…pernikahan
adalah amanah dan bagaimana pun bentuk nasibnya haruslah dijaga dan ia hanya
memupuk kesabaran dari tahun ke tahun.
Ia tidak
boleh bernafsu pada seorang perempuan dan lebih buruk dari itu ketika ia tidak
boleh bernafsu pada istrinya sendiri.
Ia
teramat gembira telah mampu menghindar dari istri yang semacam istrinya, dengan
cara terhormat semacam ini.
Sebotol
air minum yang tidak boleh diminum itu akhirnya ia minum untuk mengusir dahaga.
Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan
akhirnya tak bernapas lagi.
(2) Paragraf kunci dalam cerita;
Di antara
benar dan tidaknya mimpi istrinya, ia telah menemukan celah untuk melepaskan
diri dengan perjalanan yang diminta istrinya, perjalanan melepas yang tidak
lahir dari rasa yang tidak bertanggung jawab.
Sebotol
air minum yang tidak boleh diminum itu akhirnya ia minum untuk mengusir dahaga.
Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan
akhirnya tak bernapas lagi.
(3) Yang hendak disampaikan pencerita
(menurut saya sebagai peresensi)
Ongky Arista UA memaparkan bahwa
pernikahan itu amanah yang tujuannya untuk memiliki keturunan. Namun perempuan
kadang mempunyai pikiran yang tidak masuk akal, misalnya jangan dulu memiliki
anak kalau belum punya harta yang cukup untuk menghidupinya. Oleh karenanya
carilah dulu harta, baru punya anak.
Ongky Arista UA hendak menggambarkan
bahwa keyakinan itu perlu untuk mendukung agar tujuan terus diupayakan sehingga
kelak bisa dicapai.
(4) Pesan moral
Pernikahan merupakan bertemunya dua
keyakinan: keyakinan yang dipegang istri, dan keyakinan yang dipegang oleh
suami. Kedua keyakinan ini harus bersinergi sehingga saling mendukung untuk
mencapai tujuan berkeluarga, misalnya memiliki anak.
(5)
Kritik untuk cerpen: di satu sisi Ongky Arista UA sangat mengejutkan ketika membuat
satu entitas biasa yaitu sebotol air minum menjadi sesuatu yang bisa
mengeksplorasi kehidupan sebuah rumah tangga dan kekisruhan di dalamnya. Di
sisi lain, Ongky Arista UA tidak adil dalam menggelar tokoh utama pria yang
seolah nurut dan manut pada istrinya. Isi cerita berpusat pada satu keinginan:
menuruti keinginan istri, sedangkan dalam keinginan suaminya tidak tersentuh,
dan bahkan tidak ada suaranya.
Inti
cerita
Seorang pria tidak bisa menyetubuhi istrinya karena istrinya
khawatir nanti punya anak dalam keadaan miskin. Kata si istri, ;aku bermimpi,
temuilah orang berbaju putih, dan minumlah air ini setelah kamu berhasil. Si
pria berangkat, malah dia tidak berniat pulang, merasa bebas dari istrinya, dan
dia minum air itu, dia mati (mungkin air itu telah diracuni oleh istrinya)
2. Kakek
Tidak akan Mati
Oleh: Ongky
Arista UA
Peresensi:
Badriah
(1) Kutipan
kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tersebut;
Sejak
kanak-kanak, aku sudah percaya bahwa semua manusia akan mati tanpa terkecuali.
Lagi pula,
kematian itu bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham
atas sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
Lagi pula,
kematian itu bukan urusan manusia. Apa mungkin ada orang yang benar-benar paham
atas sesuatu yang bukan urusannya sendiri?
Apakah waktu bisa
menyepuh tubuh manusia menjadi tua?
…, tetapi
kematian adalah soal kepastian yang tak begitu tepat dipastikan–oleh siapa
pun–kapan akan benar-benar datang atau kapan akan benar-benar tidak datang.
“Hanya satu
kepastian, semua akan kembali pada yang Satu.”
(2) Paragraf kunci dalam cerita;
Kakek
meninggal. Nenek menjerit-jerit seperti jeritan anak kecil saat kakinya
terjepit roda sepeda yang dikendarianya, tersentak-sentak jeritnya. Sepertinya,
malaikat maut sudah dari tadi ikut bersama kita di lencak bambu ini atau di
atas dahan pohon kedondong sambil menahan angin dengan kaki terjuntai tepat di
atas ubun-ubun kakek.
Dan kematian
bukan lagi tentang manusia yang dapat bertahan hidup atau tidak, tentang
keyakinan atau tidak, umur tua atau tidak dan bukan pula soal menunggu waktu
atau tidak, tetapi kematian adalah soal kepastian yang tak begitu tepat
dipastikan–oleh siapa pun–kapan akan benar-benar datang atau kapan akan
benar-benar tidak datang.
(3) Yang hendak disampaikan pencerita (menurut
saya sebagai peresensi)
Ongky Arista UA
memaparkan bahwa manusia dicekoki sebuah keyakinan: manusia akan mati, dan
semua harus setuju dengan cekokan itu. Ketika seorang lelaki (kakek) melawan
cekokan turun temurun tersebut dengan menyebut dirinya tidak akan mati, kakek dipandang
manusia aneh.
(4) Pesan moral
Manusia mencari
jawaban atas semua pertanyaan yang muncul dibenaknya. Ada pertanyaan yang bisa
dijawab, ada pertanyaan yang bisa dijawab oleh waktu. Kematian merupakan
pertanyaan yang tidak perlu dijawab, waktu yang akan menjawabnya.
(5) Kritik
untuk cerpen: pertama, penggunaan Bahasa daerah yang disisipkan pada cerita,
walaupun diberi arti sejelas mungkin melalui penjelasan dalam kurung, namun
bagi saya sebagai pembaca itu mengganggu kenyamanan membaca. Kedua, pada kalimat
“Pohon kedondong di depan kakek sesekali menyemburkan angin. Beberapa lipat
daun gugur, sebagian hinggap di lencak kita duduk.” Penggunaan kata kita terasa janggal. Saya sebagai
pembaca membayangkan bahwa saya ikut menjadi bagian cerita karena akibat kata
ganti kita. Padahal saya tidak ikut menjadi siapapun dalam cerita itu, saya
hanya pembaca saja. Mungkin menggunakan kata ‘kami’ lebih tepat, agar jelas
yang duduk itu hanya para pelakon dalam cerita itu saja.
Inti
cerita:
Seorang lelaki mengaku tidak akan pernah mati karena ia
mengatakanya begitu. Istrinya sangat mempercayainya. Cucunya menanyakan apakah
benar kakek tidak akan mati, namun kakek itu mati. Si cucu merasa menemukan
jawban, melihat neneknya menangis
“apakah nenek merasa tertipu karnea ternyata kakek mati.
Cerpen lengkap dapat dibaca di:
Diskusi untuk perbedaan resensi, dapat diunggah pada komentar.

No comments:
Post a Comment