Kota Cianjur terkenal sebagai kota santri dimana
para penduduknya menikmati bulan puasa dengan cara tersendiri. Ada keterkaitan
yang tidak terpisahkan antara sejarah lahirnya kota Cianjur dengan tradisi
berpuasa yang dilaksanakannya.
Mengacu pada sejarah, Cianjur disebut kota santri
karena pendiri kota Cianjur tiada lain adalah seorang santri yang belajar
keagamaan di Cirebon. Untuk kepentingan menyebarkan ilmu agama, maka santri
bernama Raden Jayalanana meninggalkan kota kelahirannya dan membuka pesantren
baru di daerah Cikundul Cianjur. Agama Islam sebagai agama baru ternyata
diterima dengan baik oleh penduduk setempat, bahkan banyak penduduk dari luar
daerah datang untuk belajar keislaman di Cikundul. Terhitung lebih dari 3.000
orang yang menjadi pengikutnya. Sesuai aturan masa itu, siapapun yang memimpin
sebuah tempat dengan jumlah penduduk yang diayominya 3.000 orang maka otomatis
menjadi Dalem. Raden Jayalanana kemudian menjadi Dalem Cikundul dengan gelar
Raden Aria Wiratanu.
Berkembangnya Cianjur terkait erat dengan Dalem
atau pemimpin daerah setara bupati yang menjadi pemimpin Cianjur. Dalem pertama
adalah seorang santri yang kuat ibadahnya. Kondisi ini berlanjut secara turun
temurun sampai ke dalem-dalem selanjutnya yang memimpin Cianjur.
Bulan puasa atau dikenal dengan sasih saum bagi orang Cianjur merupakan
bulan yang ditunggu-tunggu. Kata saum
diambil dari Bahasa Arab shaum
kemudian menjadi kata pinjaman yang dipakai sehari-hari yang bermakna puasa. Alasan
bulan puasa ditunggu dan dirindukan karena secara turun temurun menjadi
folklore yang beredar di masyarakat bahwa pada bulan puasa setan diringkus,
sehingga manusia bisa berbuat baik selama bulan puasa dengan sempurna. Selain itu,
setelah puasa berakhir, siapapun yang berpuasa dengan ikhlas akan seperti lahir
kembali, ibarat bayi. Iming-iming lahir kembali menjadi orang bersih, dan setan
diikat, membuat masyarakat Cianjur berpuasa dengan sangat sungguh-sungguh. Bahkan
anak-anak usia 5 tahun pun sudah dikenalkan dengan puasa. Caranya sama, yakni
menahan makan dan minum. Tetapi semampunya. Jika mampu sampai pukul 8 pagi,
maka dia boleh berbuka, setelah itu niat lagi melanjutkan puasanya.
Pada saat berpuasa godaan yang paling berat adalah
rasa haus dan lapar. Untuk menghindari diri dari memikirkan makan dan minum,
maka masyarakat Cianjur memiliki tradisi ngabuburit.
Ngabuburit diambil dari kata burit. Burit artinya sore sekitar pukul 5 ke atas, atau menjelang magrib. Ngabuburit adalah kegiatan yang menunggu
waktu buka puasa yang datangnya pada waktu burit
atau pada waktu sore. Setiap kampung memiliki cara masing-masing untuk
menunggu magrib. Pada tulisan ini akan dicontohkan ngabuburit yang dilakukan
masyarakat kota Cianjur, yaitu masyarakat yang tinggal di pusat kota Cianjur.
Masyarakat kota Cianjur memiliki gaya ngabuburit
yang kurang lebih sama dengan masyarakat Cianjur di wilayah lainnya. Mereka meninggalkan
rumah setalah shalat ashar. Bermacam-macam cara yang digunakan sehingga keluar
dari rumah. Untuk masyarakat sekitar kota Cianjur, sebagian dari mereka
berangkat dan pulang dengan menggunakan kolbak, atau truk terbuka. Tujuannya untuk
hiburan dan membangun kebersamaan. Sebagian lagi ada yang berangkat dengan
menggunakan kendaraan sendiri, atau bisa juga naik angkot.
![]() |
| Masyarakat naik truk terbuka menuju alun-alun Cianjur |
Mereka beramai-ramai menuju sebuah tempat, yaitu
depan masjid Agung Cianjur yang dikenal dengan sebutan alun-alun Cianjur. Alun-alun
artinya lapangan, dulu merupakan tempat dilakukan upacara resmi pemerintah. Kini
alun-alun tidak lagi berfungsi sebagai tempat upacara, namun menjadi tempat
menenangkan pikiran, menghibur diri, bertemu teman, bahkan bisa juga menjadi
tempat untuk membuang waktu.
Pada saat ngabuburit tentu saja tidak ada aktivitas
makan dan minum. Yang ada adalah ngobrol, membuat pertemanan baru, dan belanja
makanan untuk berbuka. Masyarakat dari berbagai kalangan bertemu di alun-alun
Cianjur. Ada hal menarik ketika ngabuburit, yakni bertemu dengan penduduk
santri. Keberadaan para santri terlihat berbeda sekali dengan masyarakat umum. Para
santri pria menggunakan sarung dan bersandal jepit. Para santri perempuan
menggunakan kerudung yang dikaitkan pada telinga dan memakai kain sarung
(sarung untuk wanita yang biasanya terbuat dari batik).
![]() |
| Gaya para santri ketika ngabuburit |
Ngabuburit menjadi aktivitas yang sangat menarik
bukan karena kemampuannya membuat pikiran tidak terlalu berpusat pada rasa haus
dan lapar. Ngabuburit menjadi aktivitas sosial yang memberikan banyak manfaat.
Manfaat utama dari ngabuburit adalah mempererat
tali silaturahmi diantara komunitas. Hal ini terjadi karena selama ngabuburit
mereka memiliki banyak waktu untuk berbincang, berseloroh, lebih mengenal
personal dengan lebih dalam. Ngabuburit
seperti ini menunjukkan nilai positif. Kehidupan yang biasanya di hack oleh
gawai, untuk sementara waktu, tidak terjadi. Yang muncul adalah kehidupan
normal, dimana antar individu berbicara secara langsung face to face. Pertemanan
dalam bentuk pertukaran obrolan terjadi secara riil, tidak perlu membubuhkan
like atau gambar love seperti pada pertemanan virtual.
Manfaat kedua
adalah komunikasi. Pada saat ngabuburit semua
orang saling bertukar cerita. Komunikasi alami yang kini jarang bisa ditemui. Keterampilan
komunikasi kembali terasah pada saat seseorang dipaksa menjawab secara reflek
dan lisan. Ngabuburit memang isinya
ngobrol-ngobrol, ngalor ngidul.
Manfaat lainnya adalah mood booster. Pada saat ngabuburit akan bertemu orang baru yang
memungkinakn mendapatkan inspirasi baru, cara pandang baru terhadap hidup. Hal ini
membuat mood berubah. Selain itu pada
saat berbicara dengan teman atau
anggota keluarga memungkinkan bisa mendengar suara hatinya, impiannya,
cita-citaya yang bisa saja memotivasi dan mengubah cara pandangn terhadap diri
sendiri.
Ngabuburit sebagai
suatu kegiatan yang menunggu saat berbuka puasa tiba yang dilakukan masyarakat Cianjur
hanya ada pada saat bulan Ramadan saja. Fenomena ngabuburit yang dilakukan
secara turun temurun namun tidak memiliki pola dan aturan tertentu menyebabkan
ngabuburit menjadi milik semua warga masyarakat Cianjur.


No comments:
Post a Comment