Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat khas bagi
perputaran keuangan di Indonesia. Pada bulan ini perputaran keuangan di
masyarakat sangat tinggi. Dimulai dari awal puasa, masyarakat mulai menggunakan
uangnya secara royal untuk menyambut datangnya awal puasa. Di beberapa daerah
bahkan, terdapat kegiatan yang hanya digelar khusus untuk menyambut Ramadan.
Cianjur sebagai contoh, melakukan kegiatan yang disebut Papajar, artinya
menyambut fajar Ramadan dengan melakukan piknik sambil makan-makan memuaskan
hasrat mulut sebelum sebulan kemudian dikunci dari aktivitas makan berlebihan.
Bagi pengguna jasa perbankan, bulan Ramadan merupakan bulan
yang sama chaosnya. Pemakaian ATM, Mbanking dan e-banking pada umumnya tinggi.
Penarikan uang terjadi seolah tanpa ada pembatas. Bulan Ramadan mendorong
pemilik uang (nasabah) untuk merelakan pengeluaran yang tidak seperti biasanya.
Tujuannya tiada lain adalah hanya untuk menciptakan Ramadan yang istimewa bagi
seluruh anggota keluarga.
Bulan Ramadan menjadi bulan yang rentan terhadap kejahatan
perbankan. Terdapat tiga kejahatan utama yang bisa terjadi kapan saja dan
kepada siapa saja pada bulan Ramadan. Ketiga kejahatan perbankan tersebut
diuraikan satu persatu di bawah ini.
Pertama, pencurian uang dengan modus phising 2.0.
Pemakaian ATM dan ebanking bukannya tanpa bahaya. Username
dan password untuk otentifikasi bisa diretas. Phising 2.0 merupakan kejahatan
perbankan yang marak saat ini terjadi. Pemilik tidak merasa menggunakan uang,
namun terjadi transaksi. Hal ini terjadi karena penipu menggunakan alasan
sinkronisasi token, kemudian pemilik ATM memasukkan nomor token resmi ke kolom
sinkronisasi yang sebetulnya bukan dari bank, tapi dari penipu. Pada saat
itulah atau pada saat period token berlangsung, makan cracker atau penipu
mengambil uang sejumlah yang mereka inginkan.
Selain dengan cara pura-pura sinkronisasi token, para craker
melakukan aktivitas pencurian dengan membuat web palsu dengan nama dan tampilan yang mirip dengan
yang dikeluarkan oleh bank. Setelah itu mereka membuat halaman palsu atau fake
login. Misalnya pada BCA dengan menggunakan klikbca.com dengan alamat palsu
seperti wwwklikbca.com, klikbca.com, clickbca.com, klickbca.com dan
klikbac.com.
Modus phising 2.0 sangat kejam, cracker tidak hanya
membahayakan bagi pemilik uang tapi juga perbankan itu sendiri. Phising 2.0
terjadi ketika transasksi dilakukan lewat internet banking. Phising 2.0
dilakukan dengan cara menyerang jaringan yang digunakan nasabah dan meyerang
web perbankan. Hape nasabah misalnya ditanami virus Trojan setelah sebelumnya
disadap terlebih dahulu. Dengan cara ini penyerang bisa mengetahui nomor
otentifikasi yang dimiliki nasabah. Untuk mengindari serangan ini, memanfaatkan
pengamanan multi faktor salah satunya dengan menambah notifikasi SMS.
Kejahatan perbankan kedua bermodus skimming. Penyerang
melakukan pencurian dengan menggunakan mesin ATM yang dipasangi skimmer dengan
cara memasang alat skimmer pada mulut mesin ATM. Alat skimmer inilah yang
menduplikasi data magnetic stripe pada kartu ATM, kemudian dibuat kloning ke
dalam kartu ATM baru.
Agar tidak terkena skimming sebaiknya menggunakan dua jenis
autentikasi pada saat mendaftarkan akun dan pada saat melakukan transaksi.
Jangan lupa untuk memeriksa saldo rekening secara teratur agar segera diketahui
jika terjadi transaksi yang janggal. Hindari menggunakan mesin ATM yang sepi,
jauh dari mana-mana dan pencahayaan redup.
Kejahatan perbankan yang ketiga adalah pengurasan uang yang
dilakukan oleh oknum pegawai bank itu sendiri. Oknum bisa melakukan kejahatan
dengan cara mengubah data setoran. Cara yang dilakukan adalah dengan
menyerahkan slip setoran kepada nasabah sesuai dengan angka yang akan
disetorkan, namun dicatatkan berbeda ke penyetoran bank. Modus lainnya adalah
dengan mencairkan uang nasabah. Cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan slip setoran kemudian membuat seolah ada penarikan dengan cara meniru tanda
tangan yang ada pada slip setoran.
Bulan Ramadan membantu perbankan di Indonesia bergerak
dengan cepat. Perputaran uang tiada henti terjadi melalui transaksi yang
dilakukan oleh masyarakat. Daya beli masyarakat tidak menunjukkan penurunan
malah sebaliknya. Semoga ini mengisyaratkan bahwa pendapatan per kapita secara
riil mengalami kenaikan, bukan karena memaksakan diri demi Ramadan maka
dilakukan kegiatan yang tidak perlu yang nantinya mengarah pada sikap
konsumtif.
No comments:
Post a Comment